— Refleksi Lapangan & Manajemen Bencana —
Tiga Hari Bersama Calon Penolong: Catatan Fasilitator TRC dari Gladi Bencana UPN Veteran Jakarta
Oleh: Ns. Kharisma A. Putra, M.Kep., Sp.Kep.M.B. · Mei 2026

Ada satu hal yang selalu saya ingatkan setiap kali berdiri di depan kelas manajemen bencana: bencana tidak pernah datang dengan jadwal. Ia tidak menunggu kita siap. Karena itulah, “kesiapan” bukanlah dokumen yang dicetak rapi di lemari, melainkan refleks kolektif yang harus dilatih — berulang, melelahkan, dan kadang membuat frustrasi. Tiga hari bersama mahasiswa UPN Veteran Jakarta dalam Bimbingan Teknis dan Gladi Bencana adalah bukti hidup dari prinsip itu.
Sebagai fasilitator yang ditempatkan di lini Tim Reaksi Cepat (TRC), saya tidak sekadar menyampaikan materi. Saya ikut berjongkok di lantai bersama mereka, mengoreksi posisi tangan saat memasang sungkup oksigen, ikut tegang saat alur triase tersendat, dan ikut lega saat akhirnya sistem rujukan berjalan. Tulisan ini adalah catatan reflektif saya — sebagian besar tentang mahasiswa, sebagian kecil tentang diri saya sendiri yang belajar lagi bahwa pendidikan bencana adalah pekerjaan sabar.
Saya akan membagi catatan ini menjadi tiga bagian: kerangka empiris yang menjadi landasan materi, potret kondisi lapangan saat simulasi berjalan, dan refleksi penutup — termasuk apresiasi yang sungguh-sungguh untuk para mahasiswa yang berani basah-keringat di lapangan bersama saya.
Kerangka Empiris: Mengapa Sistem Itu Penting
Manajemen bencana modern — sebagaimana diatur dalam kerangka Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 dan diadaptasi melalui UU No. 24 Tahun 2007 serta turunannya pada Permenkes No. 75 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan — tidak berhenti pada respons. Ia bekerja dalam siklus: pra-bencana (mitigasi, kesiapsiagaan), saat bencana (tanggap darurat), dan pasca-bencana (rehabilitasi, rekonstruksi). Materi tiga hari ini saya rancang mengikuti logika tersebut, dengan penekanan pada fase tanggap darurat — fase yang paling kasat mata dan paling sering salah kelola.
Pada hari pertama, mahasiswa diperkenalkan pada struktur Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) dan klaster kesehatan. Saya menekankan beberapa elemen kunci yang harus dipahami sebelum mereka turun ke skenario lapangan:
◆ TRC (Tim Reaksi Cepat) — unit penilai cepat 0–24 jam pertama, bertugas Rapid Health Assessment.
◆ RHA & EMT — Emergency Medical Team Tipe 1 Mobile sebagai unit medis lapangan.
◆ HEOC (Health Emergency Operations Center) — pusat kendali data, koordinasi, dan logistik.
◆ Triase START/SALT — sistem prioritas korban berbasis warna (merah, kuning, hijau, hitam).
◆ DVI (Disaster Victim Identification) — protokol Interpol untuk identifikasi korban meninggal melalui jalur ante-mortem dan post-mortem.
Banyak mahasiswa awalnya berpikir penanganan bencana hanyalah soal “menolong korban secepat mungkin.” Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam studi Lechat (1990) dan diperkuat oleh laporan WHO tentang mass casualty management, kecepatan tanpa sistem justru menghasilkan over-triage, duplikasi tindakan, dan — yang paling tragis — korban tambahan dari kalangan penolong. Itulah mengapa hari pertama saya habiskan untuk membongkar mitos “pahlawan tunggal” dan mengganti narasinya dengan “tim yang berfungsi”.
“Dalam bencana, niat baik yang tidak terstruktur seringkali lebih berbahaya daripada keterlambatan yang terkoordinasi.”


Kondisi Lapangan: Saat Skenario Mulai Bicara
Hari kedua adalah hari ketika teori bertemu lantai keramik dan tanah lapangan. Skenario yang kami susun adalah simulasi gempa bumi dengan kerusakan struktural pada area kampus, menghasilkan korban massal dengan beragam tipe cedera. Mahasiswa dibagi ke dalam pos-pos fungsional: TRC, triase, RS Lapangan, EMT, DVI, dapur umum, ruang pengungsian, hingga Media Center dan HEOC. Tiap pos diberi identitas visual yang sengaja dibuat ramah — sebagaimana yang Anda lihat pada papan-papan bertema hutan di seluruh area latihan.
Saya berdiri di pos TRC. Dari sana saya mengamati alur penemuan korban di lokasi insiden, proses ekstraksi, sampai serah-terima ke pos triase. Saya melihat tangan-tangan yang masih ragu memasang neck collar, suara yang masih terlalu pelan saat memanggil rekan untuk membantu, dan mata-mata yang sesekali mencari saya untuk memastikan, “Pak, ini sudah benar?” Saya menahan diri untuk tidak langsung mengoreksi setiap kesalahan. Pelatihan bencana yang baik, sebagaimana ditegaskan dalam pedoman BNPB tentang Table Top dan Field Training Exercise, harus memberi ruang bagi peserta untuk gagal dengan aman.
“Di gladi, kesalahan adalah materi pembelajaran. Di lapangan nyata, kesalahan adalah nyawa. Maka mari kita habiskan semua kesalahan di sini.”
Salah satu pos yang paling menggugah saya adalah area pengungsian. Mahasiswa membangun tenda dengan pembagian klaster rentan yang cukup detail: tenda Ibu Hamil dan Anak, tenda Lansia, tenda Penyakit Kronis, tenda Disabilitas, hingga tenda Jiwa/ODGJ. Bahkan ada Ruang Laktasi dan “Bilik Asmara” — istilah yang awalnya membuat saya tersenyum, namun secara teknis merujuk pada ruang privasi keluarga yang direkomendasikan Sphere Standards (2018) sebagai bagian dari dignified shelter. Pemilahan klaster rentan ini sejalan dengan prinsip protection mainstreaming yang sering luput dari respons bencana di Indonesia.







DVI, Rujukan, dan Sisi Bencana yang Jarang Diceritakan
Hari ketiga membawa kita ke wilayah yang paling jarang diajarkan — dan paling sering dihindari — dalam pelatihan bencana: penanganan korban meninggal. Saya selalu menegaskan, baik pada bimbingan teknis maupun kuliah saya, bahwa Disaster Victim Identification (DVI) bukan sekadar prosedur forensik. Ia adalah bentuk tertinggi dari penghormatan negara kepada warganya yang gugur. Mahasiswa membuka pos Pusat Informasi Korban Meninggal, jalur ante-mortem, dan jalur post-mortem secara terpisah — sesuai standar Interpol DVI Guide.
Saya melihat mahasiswa berusaha keras menjaga raut wajahnya saat memerankan keluarga korban. Sebagian tertawa kikuk, sebagian benar-benar tersentuh. Justru dari kekikukan itulah saya tahu pembelajaran sedang terjadi: mereka mulai memahami bahwa di balik nomor jenazah, ada keluarga yang menunggu. Itulah dimensi etis bencana yang tidak dapat dikuasai hanya dengan menghafal SOP.
“Memulangkan jenazah dengan nama yang benar adalah jembatan terakhir antara bencana dan kedukaan yang bermartabat.”
Selain DVI, hari ketiga juga menyoroti sistem rujukan dan dukungan ambulans. Dua ambulans disiagakan, rumah sakit rujukan diperankan secara penuh, dan EMTCC (Emergency Medical Team Coordination Cell) menjadi simpul logistik medis lintas pos. Dalam evaluasi, saya menemukan beberapa hal yang tidak sesuai prosedur — alur dokumentasi yang sempat melompati tahapan, komunikasi antar-pos yang bertumpang tindih, dan beberapa tindakan klinis yang masih meraba. Hal-hal ini telah saya bahas tuntas pada sesi bimbingan terakhir, dan justru itulah inti dari gladi: menemukan celah sebelum bencana yang menemukannya untuk kita.









Apresiasi, Catatan, dan Harapan
Tiga hari ini adalah perjalanan yang melelahkan namun sangat bermakna. Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada mahasiswa UPN Veteran Jakarta yang telah mengikuti arahan materi dengan sungguh-sungguh, kepada panitia yang bekerja di balik layar, kepada rekan-rekan fasilitator yang bahu-membahu di setiap pos, dan kepada para dosen pengampu yang memberi ruang bagi gladi ini terlaksana. Saya tahu tidak semua hal berjalan sesuai prosedur — dan itu wajar. Bencana pun jarang berjalan sesuai prosedur.
Yang Patut Diapresiasi
Inisiatif membangun pos yang lengkap, empati dalam perlakuan terhadap kelompok rentan, dan keberanian mencoba meski belum sempurna.
Yang Perlu Diperbaiki
Disiplin alur komunikasi antar-pos, konsistensi dokumentasi triase, dan ketegasan peran dalam struktur komando.
Catatan-catatan yang belum sesuai prosedur sudah saya sampaikan secara terbuka pada sesi bimbingan terakhir. Saya percaya, mahasiswa yang berani salah di hari latihan adalah mahasiswa yang akan tenang di hari kejadian. Jangan pernah malu atas kesalahan di gladi — malu lah jika tidak belajar darinya. Teruslah berlatih, baca lagi pedoman BNPB dan Kemenkes, dan jika ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, pintu saya selalu terbuka.
Untuk mahasiswa UPNVJ: kalian adalah generasi yang akan menanggung beban kebencanaan Indonesia ke depan — negeri dengan posisi geologis yang tidak memberi banyak pilihan selain menjadi bangsa yang tangguh. Tetap semangat, jaga semangat belajar, dan ingat bahwa kompetensi bencana tidak berhenti di gladi. Ia adalah laku seumur hidup.
“Kesiapsiagaan bukanlah peristiwa, melainkan kebiasaan. Dan kebiasaan, sebagaimana yang kalian tunjukkan tiga hari ini, lahir dari keberanian untuk berlatih meski belum sempurna.”
Tentang Penulis
Ns. Kharisma Adytama Putra, M.Kep., Sp.Kep.M.B. adalah perawat spesialis Keperawatan Medikal Bedah, pendidik, sekaligus praktisi yang aktif terlibat dalam pelatihan manajemen bencana dan tanggap darurat kesehatan. Ia kerap diundang sebagai fasilitator dalam berbagai bimbingan teknis Tim Reaksi Cepat (TRC) di institusi pendidikan tinggi kesehatan dan lembaga mitra. Melalui www.aksarakg.id, ia menulis catatan reflektif tentang praktik keperawatan, manajemen krisis kesehatan, dan pendidikan klinis — dengan keyakinan bahwa narasi adalah salah satu cara terbaik untuk mewariskan pengalaman.
💬 Diskusi Terbuka
Bagi Anda yang pernah terlibat dalam gladi atau respons bencana nyata: bagian sistem mana yang menurut Anda paling sering gagal di lapangan — komando, komunikasi, atau klinis? Mari berbagi cerita di kolom komentar.

